Category: Uncategorized


Pengajian Rutin

Di Desa Citeras, Malangbong terdapat aktivitas rutin di bidang keagamaan, yaitu pengajian rutin di dusun I dan dusun II. Terdapat empat lembaga keagamaan yang mengadakan pengajian rutin, yaitu di Masjid Al-Barokah, Madrasah Nurul Bayan, Masjid Al-Ikhlas, Madrasah Al-Hidayah. Setiap mesjid yang berada di desa Citeras ini memiliki jadwal pengajian masing-masing yang berbeda, sehingga tidak akan terjadi bentrok dengan jadwal pengajian di mesjid lainnya.

Madrasah Nurul Bayan merupakan madrasah satu-satunya di dusun II desa Citeras Kec. Malangbong. Perlibatan masyarakat dusun II desa Citeras Kec. Malangbong, dalam kegiatan sehari-hari dalam pengajian maupun kegiatan madrasah yang melingkupi sekolah keagamaan islam. Yang mana, pengajian rutin dilakukan oleh masyarakat internal Dusun II desa Citeras Kec. Malangbong dengan keterlibatan dan waktu berbeda-beda, sore hari biasanya peserta pengajian adalah ibu-ibu dan bapak-bapak Dusun II desa Citeras Kec. Malangbong. Sedangkan ba’da maghrib biasanya dalam hal keterlibatan warga dalam pengajian adalah khususnya anak-anak dengan pengajar ngaji dari bapak-bapak Dusun II desa Citeras Kec. Malangbong.

Masjid Al-Barokah merupakan masjid terbesar di Desa Citeras Kec. Malangbong yang terletak di dusun II. Pengajian tersebut dilaksanakan rutin setiap minggu, yaitu hari Selasa. Pengajian ibu-ibu dilakukan secara terpisah dengan pengajian bapak-bapak. Pengajian ibu-ibu dilaksanakan pukul 16.00 sampai dengan 17.00 sedangkan pengajian bapak-bapak dilaksanakan di hari yang sama ba’da maghrib.

Mesjid Al-Ikhlas juga seringkali mengadakan pengajian rutin yang dilaksanakan setiap malam sabtu dan malam rabu atau pada hari jumat dan pada hari selasa, dilaksanakan pada pukul 19.30 wib sampai dengan pukul 20.30 wib, untuk siang harinya dilaksanakan pada ba’da jumat sekitar pukul 16.00 wib sampai dengan pukul 17.00 wib. Pengajian ibu-ibu dilkukan secara terpisah dengan pengajian bapak-bapaknya. Pengajian ibu-ibunya pun dilaksanakan pada hari jumat pukul 16.00 wib samapai dengan pukul 17.00 wib, dan jumat malamnyapun ada pengajian ibu-ibu lagi. Untuk pengajian tingkat desa dilaksanakan dalam kurun waktu satu kali dalam satu bulan, dilaksanakan setiap hari sabtu pada minggu kedua.

Madrasah TPA/TQA Al-Hidayah yang berada di dusun I Aktifitas keagamaan yang dilaksanakan di madrasah ini antara lain kegiatan pengajian ibu-ibu yang dilaksanakan pada setiap hari minggu pada pukul 14,00 wib ampai dengan pukul 16.00 wib,terkadang pengajian ini diikuti oleh ibu-ibu TK saja. Kegiatan lain di madrasah ini adalah kegiatan muludan dan zamiatu qiro’at.

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan kegiatan yang diselenggarakan  dari, oleh, dan untuk masyarakat yang penanggung jawabnya adalah seorang kepala desa. Tujuan dari Posyandu sendiri adalah untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat, karena dengan adanya Posyandu masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan pada waktu dan tempat yang sama.

Desa Citeras terdapat pelayanan kesehatan, berkategori lembaga kesehatan maupun nonlembaga kesehatan. Posyandu merupakan salah satu dari beberapa lembaga kesehatan yang terdapat di Desa Citeras. Pelayanan-pelayanan yang di terapkan di posyandu Desa Citeras melingkupi pelayanan imunisasi untuk balita, pemberian vitamin untuk ibu hamil dan balita, check up ibu hamil dan balita, timbang berat badan untuk balita, dan masih banyak pelayanan yang dilakukan untuk masyarakat Desa Citeras khususnya.

Selain mengadakan imunisasi bagi anak, posyandu tersebut juga mengadakan pemberian vitamin A yang dilaksanakan sebanyak satu tahun dua kali untuk memenuhi kebutuhan gizi anak desa Citeras.

Kegiatan Posyandu di Desa Citeras dilaksanakan setiap satu bulan sekali untuk setiap Dusun pada minggu yang berbeda – beda. Menurut keterangan Ibu Imas selaku Ketua Pokja 4, kesadaran masyarakat di Desa Citeras untuk datang ke Posyandu setiap bulannya sudah bertambah, meskipun begitu masih ada masyarakat yang belum memahami pentingnya Posyandu, sehingga para pengurus Posyandu masih harus berkeliling ke setiap Dusun untuk memberikan pelayanan kepada ibu dan balita yang ada di Desa Citeras.

kegiatan ini dilakukan pada tanggal 23 januari 2011 yang  ikuti oleh  peserta KKNM Desa Citeras.  Kegiatan tandur ini dilakukan disawah salah seorang warga desa Citeras (pak Mali), disana kami diajak untuk belajar menanam padi. Kami mendapat pengalaman baru dari kegiatan ini.

Pada awalnya kami di ajarkan untuk cara memegang bibit padi lalu cera menanamnya ke tanah . Meskipun baru pertama kalinya menanam padi disawah, hasil dari pekerjaan kami cukup memuaskan dan para petanipun cukup senang.

Peserta KKNM Sedang Menanam Padi

Pabrik Garam

Desa Citeras yang merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan usaha dagang dan industri memiliki sebuah pabrik yang dikelola oleh masyarakat asli daerah itu sendiri yaitu Pabrik Garam. Pabrik garam milik PT. Citra Mekar Sari yang terletak di Kampung Pangkalan Citeras, Malangbong Kabupaten Garut ini memproduksi garam yang didatangkan dari Surabaya. Garam-garam tersebut didatangkan dengan maksud untuk dikemas ulang dan akan dipasarkan ke daerah-daerah Garut, Tasikmalaya, Subang, Karangmulya, dan daerah sekitar Sumedang. Pabrik garam ini memiliki pegawai berjumlah 50 orang. Jenis garam yang dihasilkan berupa garam meja dan garam dapur ,dua garam ini dikemas secara berbeda. Pabrik ini juga memiliki cabang di daerah Cipendeuy, Garut. Dalam hal produksi, pabrik ini dapat menghasilkan 60 bal garam dalam sehari.

Mesin Oven Garam

Kegiatan didalam Pabrik


Warung

Di jalan utama desa Citeras Malangbong terdapat banyak warung-warung yang berjejer di pinggir jalan. Salah satunya adalah warung Ibu Mimin yang tidak lain adalah istri dari salah satu Pak RT di desa Citeras. Warung yang di miliki oleh ibu Mimin ini merupakan salah satu tempat strategis, karena lokasinya tempat peristirahatan bus primajasa. Selain tempat peristirahatan bus primajasa juga biasanya mobil-mobil pribadi lainnya juga biasanya bertendeng atau beristirahat di tempat ibu Mimin.

Mata pencaharian keluaraga di desa Citeras mayoritas adalah petani dan pedagang. Ibu Mimin dan pak RT mempunyai mata pencaharian sampingan dengan berdagang di warung tersebut. Selain dengan berdagang ibu Mimin dan pak RT merupakan salah satu keluarga yang mempunyai mata pencaharian dengan mata pencaharian utama yaitu petani.

Pendapatan yang di dapat dari berdagang warung ini cukup menguntungkan yaitu dalam seharinya apabila sedang ramai pembeli kurang lebih Rp 400.000,-/hari, tetapi, apabila sedang sepi pembeli menghasilkan pendapatan kurang lebih Rp 100.000,-/hari. Sedangkan jika pada waktu hari raya besar seperti lebaran idul fitri ataupun hari-hari libur, biasanya pendapatan yang di dapat menngkat drastis mencapai sekitar Rp 1.000.000,-/hari.

Soal pendistribusian yang di lakukan oleh ibu Mimin dengan melakukan tiga kategori cara. Yaitu dengan membeli di agen pak Dedi dan pak H.Ujang, jika habis barang baru membeli stock kembali dengan tidak menstock barang sebelumnya, atau dengan belanja stock barang setiap hari jika pendapatan sedang meningkat.

Persaingan dari perdagangan di pinggir jalan dengan berbasis jalan utama yang merupakan laju nasional biasanya mempunyai persaingan yang sangat ketat dengan penjual-penjual lainnya. Ibu Mimin dengan tempat penjualan yang strategis dapat menutupi harga-harga persaingan di tempat dagang sekitarnya.

Mata pencaharian sampingan berdagang Ibu Mimin ini baru dilakoni dalam kurun waktu setahun ini. Dengan ini sudah didapatkan hasil yang cukup dan menutupi kebutuhan keluarga ibu Mimin. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal Ibu Mimin membuka warungnya selama 24 jam dalam sehari. Penjagaan warung dilakukan secara bergantian, siang hari penjagaan warung dilakukan oleh Ibu Mimin sendiri sedangkan malamnya oleh Bapak RT yang tiada lain adalah suaminya. Meskipun untuk menjalaninya sedikit berat tetapi Ibu Mimin dan Pak Mali tetap berusaha menjalaninya tanpa kenal lelah.

Karena di tempat pemberhentian tersebut merupakan tempat yang termasuk ramai dan memiliki potensi pasar yang sangat tinggi untuk dikembangkan, diharapkan ada pembangunan atau relokasi yang lebih baik. Pemerintahan mempunyai wacana pembangunan Rest Area melingkupi mesjid, rumah makan atau Restaurant, SPBU, toilet umum, supermarket dan fasilitas lengkap lainnya. Namun wacana tersebut diharapakan dapat direalisasikan secepat mungkin karena dengan terwujudnya pembangunan tersebut dapat menanmbah income untuk desa Citeras ini.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Orientasi Kepemudaan

A. Aktivitas yang dilakukan

Dalam orientasi aktivitas pemuda desa Citeras Kec. Malangbong dilakukan pada tanggal 18 Januari 2011, berpusat di kantor desa Citeras dengan mewawancarai anggota pemuda karang taruna sendiri, yang bernama Bapak Ende dari dusun 1 dan Bapak Jajang dari dusun 2, kami melakukan penggalian informasi tentang aktivitas pemuda desa Citeras Kec. Malangbong.

Aktivitas kepemudaan di desa Citeras pada umumnya sama dengan di desa-desa lainnya. Contohnya seperti mengadakan acara-acara perayaan PHBI atau PHBN. Dan kegiatan lainnya lebih bersifat conditional.

B. Masyarakat  yang  terlibat

Struktur kepengurusan karang taruna desa Citeras diketuai oleh Bapak Burhan. Juga ada peran serta aktif dari kedua dusun seperti Bapak Ende dan Bapak jajang selaku perwakilan dari dusun masing-masing. Kegiatan karang taruna desa lebih melibatkan pemuda dan pemudi desa.

Acara yg diadakan karang taruna desa membantu mengeratkan tali silaturahmi diantara warga-warga desa itu sendiri. Terutama untuk keeratan antara 2 dusun yg ada. Masyarakat yg ikut serta pun tidak hanya pemuda atau anggota karang taruna desa tetapi partisipasi semua elemen membantu kesuksesan jalannya acara yg diadakan.

C. Hasil observasi

Kegiatan yg dilakukan karang taruna desa lebih jarang diadakan dibanding dengan kegiatan yg dilakukan karang taruna dusun. Karena besarnya wilayah dan banyaknya penduduk di desa Citeras mengakibatkan susah nya koordinasi antar anggota dari karang taruna desa. Dikarenakan perbedaan dari jenis pekerjaan tiap anggotanya.

Kendala yg sangat terlihat di karang taruna desa adalah kurang menyatunya pemuda dari kedua dusun. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik masyarakat yg ada di tiap dusun. Dikedua dusun memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Di dusun 2 lebih terasa kekeluargaannya. Hal ini diperlihatkan oleh eratnya hubungan tiap masyarakat di dusun 2. Dari segi keagamaan, dusun 2 mempunyai kegiatan rutin yaitu pengajian bulanan. Hal ini menjadi salah satu faktor penguat kekeluargaan antara warga di dusun 2. Namun rendah nya tingkat pendidikan menjadi salah satu kelemahan yang ada di dusun 2.

Lain halnya di dusun 1. Di dusun 1 tingkat pendidikan sudah lumayan tinggi. Hal ini mengakibatkan peralihan jenis masyarakat dari desa ke kota yang dimana masyarakat kota lebih individualis. Kurangnya rasa kekeluargaan antar masyarakat membuat putus nya tali silaturahmi antar warga di dusun 1. Kekurangan ini yg menjadi faktor sulitnya koordinasi antar warga maupun anggota karang taruna dusun 1 itu sendiri.

D. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan (permasalahan inti dan saran)

Hambatan dari karang taruna desa adalah kurang menyatunya masyarakat desa di dusun 1 dan dusun 2. Meskipun diantara kedua dusun tidak pernah ada perpecahan namun tidak juga ada persatuan yg membuat keduanya dapat bekerja sama pada karang taruna desa. Keduanya lebih memilih membangun dusun masing-masing dari pada terlibat dalam karang taruna desa. Jadi disetiap dusun tetap ada karang taruna yang mempersatukan tiap dusunnya.

Saran

Saran untuk karang taruna desa citeras adalah mengaktifkan kembali fungsi karang taruna desa untuk menyatukan pemuda di tiap dusunnya. Contohnya dengan mengadakan acara yang mengatasnamakan karang taruna desa yang panitianya dipegang oleh pemuda dari kedua dusun. Yang secara otomatis masyarakat dari kedua dusun akan berpartisipasi. Dalam hal ini akan menyatukan kedua dusun tersebut. Serta membuat rutin kegiatan ditingkat desa dengan tujuan menyatukan sekaligus mempermudah koordinasi antar anggota karang taruna desa

Pada program KKNM Unpad 2011 di desa Citeras, kami mengadakan kunjungan ke tempat pembudidayaan bonsai. Kami menemui seorang pecinta bonsai bernama pak Herman. Dalam kunjungan tersebut, beliau menceritakan asal usul tanaman bonsai yang berkembang di Indonesia dan awal dari komunitas bonsai di Indonesia.

Tanaman hias ini berasal dari Cina pada masa kerajaan sekitar 480 tahun yang lalu. Bonsai pada saat itu digunakan untuk membayar upeti oleh orang-orang yang kurang mampu. Tanaman ini diberikan karena tanaman tersebut memiliki nilai yang tinggi dimata masyarakat Cina. Bonsai mulai menyebar ke negara-negara Asia lain seperti Jepang dan Korea, tidak hanya itu, tanaman ini juga mulai tersebar di negara bagian Eropa.

Kebun Bonsai

Dahulu bonsai adalah tanaman yang tumbuh ditepi jurang. Hal ini menyebabkan nilai bonsai menjadi tinggi jika dilihat dari cara pengambilannya, karena dibutuhkan perjuangan seseorang untuk mengambilnya. Setelah itu seseorang yang mengambil bonsai tersebut menata dan mengatur tanaman tersebut sedemikian rupa sehingga tanaman ini menjadi salah satu karya seni. Bonsai memiliki nilai seni yang tinggi jika dilihat dari bentuknya pun bonsai memiliki keunikan tersendiri.

Pak Herman adalah seseorang yang membudidayakan tanaman bosai di Indonesia, sebelum itu beliau bekerja di Institut Tekologi Bandung pada bagian lapangan Mekanika Tanah. Suatu saat, beliau dipindahkan kebagian laboratorium, karena ia merasa tidak nyaman maka ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Ketika ia tidak memiliki pekerjaan, pak Herman dihampiri oleh orang Cina, beliau ditawari untuk belajar membudidayakan tanaman bonsai. Karena didasari oleh hobinya dibidang tanaman, beliau akhirnya memutuskan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai tanaman tersebut, namun beliau tidak mengerti bahasa dari buku tersebut, akhirnya pak Herman meminta orang Cina tersebut untuk menceritakan isi dari buku. Akhirnya ia merasa tertarik dengan tanaman bonsai.

Diawal rintisan usahanya, ia memperoleh pendapatan pertama sebesar Rp 1.500.000. Bisnisnya terus berkembang dengan pesat, sampai akhirnya ia mendapatkan order besar senilai Rp 28.000.000. Setelah itu, dibentuklah komunitas pencinta tanaman bonsai se-Bandung yang bernama Bandung Bonsai Asosiasi pada tahun 1981 dan ia terlibat didalamnya. Organisasi tersebut membantu pak Herman dalam mengembangkan usahanya di bidang tanaman bonsai sampai berkembang se-Asia, namun sayangnya ditahun 2001 usahanya mengalami kebangkrutan dikarenakan kurangnya kontrol diri sehingga ia memiliki banyak utang.

Kejadian tersebut tidak membuat pak Herman menjadi terpuruk, ia kembali bangkit dan merencanakan pembangunan daerah pembudidayaan bonsai di Malangbong. Hal tersebut selaras dengan rencana pemerintah yang akan membuat rest area disekitar wilayah Malangbong. Namun sampai saat ini hal tersebut masih belum bisa direalisasikan karena keterbatasan biaya dan kurangnya dukungan dari pemerintah setempat.

A. Aktivitas yang Dilakukan

Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 18 januari 2011 yang berpusat di Puskesmas Citeras Kecamatan Malangbong. Berdasarkan informasi yang didapat dari pegawai  puskesmas, puskesmas ini membawahi dua belas desa dan salah satunya adalah Desa Citeras. Dalam kegiatan ini dilakukan wawancara untuk mendapatkan informasi dan isu-isu mengenai kesehatan masyarakat desa. Selain melakukan wawancara, mahasiswa kknm ikut terlibat dalam kegiatan imunisasi yang dilakukan di posyandu pada tanggal 20 januari 2011. Kegiatan imunisasi ini dilakukan di puskesmas dan posyandu di setiap desanya setiap satu bulan sekali.

Kegiatan ini memiliki beberapa tujuan antara lain:

-  Mengetahui sarana dan prasarana puskesmas Citeras

-  Mengetahui tingkat kesehatan warga Citeras

-  Mengetahui jumlah tenaga medis yang ada

B. Masyarakat yang Terlibat

Beberapa masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini, yaitu, Ibu Teti selaku Bidan di Desa Citeras, Ibu Mondarini selaku Ketua KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), dan Dokter Yani Suwardhani selaku Ketua Puskesmas Citeras.

C. Hasil Observasi

Dalam kegiatan ini dilakukan observasi ke Puskesmas Citeras Kecamatan Malangbong. Puskesmas Citeras ini telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap, seperti mobil Ambulance yang siap siaga selama 24 jam, telah tersedianya ruang UGD dan ruang bersalin, dan peralatan kesehatan gigi yang memadai. Puskesmas Citeras memiliki tenaga medis sejumlah dua belas orang di antaranya sebelas orang bidan dan satu orang dokter umum.

  • Obat-Obatan

Obat-obatan yang tersedia di puskesmas ini berupa obat generik yang dikirim dari pemerintah secara terjadwal sehingga tidak ada kendala dalam penyediaan obat di puskesmas terssebut. Obat yang telah dikirim oleh pemerintah ke puskesmas disalurkan kembali ke posyandu-posyandu yang ada di desa.

  • Biaya Pengobatan

Untuk setiap pengobatan di Puskesmas Citeras ini tidak dipungut biaya karena telah disubsidi oleh pemerintah, tetapi masyarakat akan dipungut biaya apabila pngobatan dilakukan di luar jam kerja yaitu pukul 08.00 sampai pukul 14.00. Selain itu, masyarakat tidak dipungut biaya untuk tindakan seperti proses bersalin apabila mereka memiliki Askes (Asuransi Kesehatan), JamKesMas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), dan JamKesDa (Jaminan Kesehatan Daerah.

  • Kegiatan Rutin

Pada Puskesmas Citeras terdapat dua kegiatan yang biasa dilakukan, yang pertama adalah pemeriksaan rutin seperti pemeriksaan gigi dan pemeriksaan kesehatan. Kegiatan kedua yang buiasa dilakukan ada;lah pemeriksaan ibu dan anak, seperti pemeriksaan ibu hamil dan imunisasi.

  • Kendala

-  Tenaga medis

Puskesmas ini masih kekurangan bidan karena banyak staf yang pindah dikarenakan masa kontrak yang sudah habis.

-  Kepercayaan masyarakat

Kebanyakan dari masyarakat yang masih mempercayakan kesehatan mereka terhadap tenaga-tenaga yang bukan tenaga para medis, contohnya: masih banyak ibun hamil yang mempercayakan proses persalinannya kepada Paraji atau bisa disebut juga dukun beranak

-  Lokasi

Posisi Puskesmas ini masih terbilang jauh dari  masyarakat, sehingga menyulitkan masyarakat untuk berobat disana

D. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan:

  1. sarana prasarana sudah cukup memenuhi kebutuhan masyarakat
  2. kurangnya jumlah  tenaga medis yang tersedia di puskesmas Citeras
  3. masyarakat masih mengunakan jasa paraji untuk proses persalinan
  4. pengobatan yang tidak dapat ditangani oleh pihak puskesmas akan di rujuk ke RSUD Garut dan RSUD Tasik
  5. persediaan obat di puskesmas berupa obat-obatan generik, apabila pasien membutuhkan obat-obatan lain, maka akan diberikan resep yang dapat dibeli di apotek tersekat (apotek Lewo dan apotek Malangbong)

Saran :

  1. adanya penambahan tenaga medis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tersutama bidan desa
  2. Penyuluhan lebih lanjut tetntang posyandu
  3. Adanya penambahan sarana berupa laboratorium untuk menunjang kebutuhan masyarakat dalam kesehatan
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.